
Ada tiga alasan yang
melatarbelakangi lahirnya Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926) dengan pelopor
utamanya KH Hasyim Asyari :
1. Motif Agama.
Bahwa Nahdlatul Ulama lahir atas semangat menegakkan dan mempertahankan Agama Allah di Nusantara, meneruskan perjuangan Wali Songo. Terlebih Belanda-Portugal tidak hanya menjajah Nusantara, tapi juga menyebarkan agama Kristen-Katolik dengan sangat gencarnya. Mereka membawa para misionaris-misionaris Kristiani ke berbagai wilayah.
1. Motif Agama.
Bahwa Nahdlatul Ulama lahir atas semangat menegakkan dan mempertahankan Agama Allah di Nusantara, meneruskan perjuangan Wali Songo. Terlebih Belanda-Portugal tidak hanya menjajah Nusantara, tapi juga menyebarkan agama Kristen-Katolik dengan sangat gencarnya. Mereka membawa para misionaris-misionaris Kristiani ke berbagai wilayah.
2. Motif Nasionalisme.
NU lahir karena niatan kuat untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu pun terlihat juga dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama.
NU lahir karena niatan kuat untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu pun terlihat juga dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama.
3. Motif Mempertahankan Faham Ahlussunnah wal Jama’ah.
NU lahir untuk membentengi umat Islam khususnya di Indonesia agar tetap teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Para Pengikut Sunnah Nabi, Sahabat dan Ulama Salaf Pengikut Nabi-Sahabat), sehingga tidak tergiur dengan ajaran-ajaran baru (tidak dikenal zaman Rasul-Sahabat-Salafus Shaleh/ajaran ahli bid'ah).
NU lahir untuk membentengi umat Islam khususnya di Indonesia agar tetap teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Para Pengikut Sunnah Nabi, Sahabat dan Ulama Salaf Pengikut Nabi-Sahabat), sehingga tidak tergiur dengan ajaran-ajaran baru (tidak dikenal zaman Rasul-Sahabat-Salafus Shaleh/ajaran ahli bid'ah).
Doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah
adalah:
1. Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir
moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang)
dan i’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan.
2. Fikrah tasamuhiyah (pola pikir
toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan
pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.
3. Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir
reformatif), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa mengupayakan perbaikan menuju
ke arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah).
4. Fikrah tathowwuriyah (pola pikir
dinamis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam
merespon berbagai persoalan.
5. Fikrah manhajiyah (pola pikir
metodologis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa menggunakan kerangka berpikir
yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.

SEJARAH
Berkaitan dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar
faktor penyebabnya adalah :
pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman
KH. Ahmad Dahlan terhadap al-Qur’an dalam menelaah, membahas dan mengkaji
kandungan isinya.
Kedua, faktor obyektif di mana
dapat dilihat secara internal dan eksternal.
Doktrin Muhammadiyah
Dua Prinsip utama pemahaman agama
islam
- Ajaran agama islam yang otentik sesungguhnya adalah apa yang terkandung dalam Alquran dan sunnah.
- Hasil Pemahaman terhadap al quran dan sunnah yang kemudian disusun dan dirumuskan menjadi kitab ajaran-ajaran agama islam yang bersifat relatif. Dua Prinsip utama pemahaman agama islam
- Ajaran agama islam yang otentik sesungguhnya adalah apa yang terkandung dalam Alquran dan sunnah.
- Hasil Pemahaman terhadap al quran dan sunnah yang kemudian disusun dan dirumuskan menjadi kitab ajaran-ajaran agama islam yang bersifat relatif.