Jumat, 08 Januari 2016

Penulisan Kata (Bahasa Indonesia)



BAB II
Isi
Penulisan Kata
A.    Pengertian Penulisan Kata
Penulisan kata terdiri dari dua kata yaitu “penulisan” dan “kata”. Penulisan adalah proses, cara, perbuatan menulis, atau menulis, sedangkan kata adalahh unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuann perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.
Dari pengertian perkata diatas dapat disimpulkan bahwa penulisan kata adalah proses atau cara menulis yang mempertimbangkan unsur bahasa yang diucapkan ataau dituliskan sebagai wujud kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa sesuaai ejaan yang disempurnakan.
B.     Pedoman Umum Penulisan Kata
a.      Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh  :
 Supir bus itu melarikan diri setelah  menabrak orang.

b.      Kata Turunan
1.      Imbuhan (sisipan, awalan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:         gemetar           berlari             catatan
2.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung dengan mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:         diberi tahu, beri tahukan
                              bertanda tangan, tanda tangani
                              berlipat ganda, lipat gandakan
3.      Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:         memberitahukan
                              ditandatangani
                              melipatgandakan

c.       Kata Ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri, buku-buku, dibesar-besarkan, gerak-gerik, kupu-kupu, lauk-pauk, soal-soal, satu-satu.

d.      Gabungan Kata
1.      Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:         duta besar, kerja sama, meja tulis, orang tua,
terima kasih, mata kuliah.
2.      Gabungan kata, termasuk istilh khusus , yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Misalnya:         alat pandang-dengar (audio-visual aid), anak-istri saya (keluarga). buku sejarah-baru (sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua), orang-tua muda ( ayah-ibu muda), kaki-tangan penguasa (alat penguasa).
3.      Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata.
Misalnya:         acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa, bumiputera, daripada, darmabakti, halalbihalal, kacamata, kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif, saputangan.
4.      Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:         adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, , inkonvensional, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna, prasangka, purnawirawan, swadaya, telepon, transmigrasi, tunawisma.

e.       Kata Ganti
Kata ganti adalah kata yang digunakan untuk menggantikan kata benda. Menurut fungsinya kata ganti dibedakan menjadi;
1.      Kata ganti orang
Kata ganti orang ialah kata yang menggantikan orang. Kata ganti orang terdapat tiga macam, yaitu;
a.       kata ganti orang pertama
Contoh:           Saya, aku, kami,kita
b.      Kata ganti orang kedua
Contoh:           Kamu, anda, engkau
c.       Kata ganti orang ketiga
Contoh: Dia, ia, beliau, -nya.
2.      Kata Ganti Milik
Kata ganti yang dipakai di belakang kata benda yang menyatakan kepemilikkan.
Contoh:           Bukuku di dalam tas.
3.      Kata Ganti Petunjuk
Kata ganti untuk menunjukkan sesuatu.
Contoh:           Lemari itu sangat besar.

f.       Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada.
Misalnya:   Tinggallah bersama saya di sini.
                        Di mana orang tuamu?
                        Ibuku sedang ke luar negeri.
                        Bram berasal dari keluarga terpelajar.

g.      Kata Sandang si dan sang
Kata sandang si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Salah
Benar
Sikecil
si kecil
Sipemalu
si pemalu
Sangdiktator
sang dictator
Sangkancil
sang kancil








h.      Partikel
1.      Partikel –lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnnya:                   Bacalah peraturan ini sampai tuntas.
                              Siapakah tokoh yang menemukan radium?
2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:         Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya.
Satu kali pun Dedy belum pernah datang ke rumahku.
3.      Partikel per yang berarti ‘demi’ dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau yang mengikutinya.
Misalnya:
                  mereka masuk kelas satu per satu. (‘satu demi satu’)
                  Harga kain itu Rp 8.000,00  per meter. (‘tiap meter’)

i.        Singkatan dan Akronim
1.      Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Adapun aturan penulisannya adalah sebagai berikut.
a.       Setiap menyingkat satu kata, dipakai satu tanda titik.
Misalnya:
            nomor disingkat no.
            halaman disingkat hlm.
b.      Bila menyingkat dua kata, dipakai dua titik.
Misalnya: atas nama disingkat a.n
c.       Bila menyingkat tiga kata atau lebih pada akhir singkatannya dipakai satu tanda titik.
Misalnya:
            dan kawan-kawan disingkat dkk.
            yang akan dating disingkat yad.
dan lain-lain disingkat dll.
d.      Penulisan lambing kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang, tidak diikuti titik.
Misalnya:
            Au                   aurum
            cm                   sentimeter
            kg                    kilogram
            Rp (5.000,00)  (lima ribu) rupiah
2.      Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata atau gabungan suku kata dari deret kata yang disingkat. Akronim dibaca dan diperlakukan sebagai kata. Ada 3 ketentuan dalam penulisan akronim.
a.       Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata yang singkat, seluruhnya ditulis dengan huruf capital.
Misalnya:
            FISIF  (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
            ISPA   (Infeksi Saluran Pernafasan Atas)
            KONI  (Komite Olahraga Nasional Indonesia)
b.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata, huruf walnya ditulis dengan huruf capital dan tidak diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya:
Bappenas         (Badan Perencana Pembangunan Nasional)
            Kadin              (Kamar Dagang dan Industri)
            Sespa               (Sekolah staf dan Pimpinan Administrasi)
c.       Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang disingkat, seluruhnya ditulis dengan huruf kecil dan tidak diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya:
            radar    radio detecting and ranging
            rapim   rapat pimpinan
            rudal peluru kendali

j.        Angka dan Lambang Bilangan
1.      Dipakai untuk menyatakan lambing bilangan nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka arab atau angka romawi.
Misalnya:
                  Angka Arab    : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,
                  Angka romawi            : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X
2.      Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, da nisi. (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya:        
19 meter          4 ons                9 hektar           65 liter
                  pukul 15.30     10 detik           30 menit          5 jam
                  Rp 10.000,00  US$3.50          Y500               158 orang
3.      Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
                  Jalan Sentosa III No. 152
                  Rumas Susun Perumnas Klender, Blok F2, No. 10
4.      Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
                  Bab X, pasal 5, halaman 354
                  Surat Annisa: 9
5.      Penulisan lambing bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a.       Bilangan utuh
Misalnya:
                        dua belas                                 12
                        dua puluh dua                         22
                        dua ratus dua puluh dua         222
b.      Bilangan pecahan
Misalnya:
                        setengah                      ½
                        tiga perempat              ¾
                        satu persen                  1%
6.      Penulisan lambing bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:        
lihat Bab II, Pasal 5 dalam Bab ke-2 buku itu
                  pada awal abad XX, pada abad ke-20 ini
7.      Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, bukan dengan angka, karena angka tidak boleh mengawali kalimat. Untuk itu, susunan kalimat diubah dengan cara menempatkan angka ditengah atau dibagian akhir kalimat.
Misalnya:        
Lima puluh orang tewas akibat bencana itu.
                  Bukan: 50 orang tewas akibat bencana itu.
8.      Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya: Perusahaan kami mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
                  Penduduk Indonesia berjumlah lebih dar 200 juta orang.
9.      Menuliskan bilangan dalam teks tidak perlu dengan angka dan huruf sekaligus, kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya: Kami memiliki 20 unit computer.
                  Di dalam lemari itu tersimpan 80 majalah.
Bukan:
                  Kami memiliki 20 (dua puluh) unit computer.
                  Di dalam lemari itu tersimpan 80 (delapan puluh) majalah.




BAB III
Penutup

a.      Kesimpulan
Dalam penulisan karya ilmiyah salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penulisan kata maupun kalimat yang tepat. Dengan penulisan kata yang tepat maka pembaca tidak akan mengalami salah tafsir terhadap kata dasar yang telah diberi imbuhan dan isi dari tulisan tersebut tersalurkan kepada pembaca, sehingga tujuan penulis dapat tersampaikan kepada pembaca.
b.      Saran
Bahasa Indonesia tidak akan tetap terjaga apabila tidak diadakan pusat bahasa dan balai bahasa serta tempat pelatihan dan pengajaran bahasa disetiap sekolah-sekolah pada setiap jenjang pendidikan nyata diperlukan karena akan membantu memelihara kesucian dan keaslian bahasa, agar selalu terhindar dari kontaminasi budaya bahasa asing.


Daftar Pustaka

S.S. Lamuddin, Finoza. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Sumber Internet :

1 komentar:

  1. Casino Review | Play Free Roulette and Slots From Real
    Casino Review: Casino has many great games from different providers 수원 출장안마 like Microgaming and 제천 출장샵 Playtech. 의정부 출장마사지 Check our 안성 출장마사지 review 경주 출장마사지 to learn how they offer various games and

    BalasHapus