BAB II
Isi
Penulisan Kata
A.
Pengertian
Penulisan Kata
Penulisan
kata terdiri dari dua kata yaitu “penulisan” dan “kata”. Penulisan adalah
proses, cara, perbuatan menulis, atau menulis, sedangkan kata adalahh unsur
bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuann
perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.
Dari
pengertian perkata diatas dapat disimpulkan bahwa penulisan kata adalah proses
atau cara menulis yang mempertimbangkan unsur bahasa yang diucapkan ataau
dituliskan sebagai wujud kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan
dalam berbahasa sesuaai ejaan yang disempurnakan.
B.
Pedoman Umum
Penulisan Kata
a.
Kata Dasar
Kata
yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh
:
Supir bus itu melarikan diri setelah menabrak orang.
b.
Kata Turunan
1.
Imbuhan
(sisipan, awalan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya: gemetar berlari catatan
2.
Jika
bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan
kata yang langsung dengan mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya: diberi
tahu, beri tahukan
bertanda tangan, tanda tangani
berlipat ganda, lipat gandakan
3.
Jika
bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,
unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: memberitahukan
ditandatangani
melipatgandakan
c.
Kata Ulang
Kata
ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri,
buku-buku, dibesar-besarkan, gerak-gerik, kupu-kupu, lauk-pauk, soal-soal,
satu-satu.
d.
Gabungan Kata
1.
Gabungan
kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya
ditulis terpisah.
Misalnya: duta besar, kerja sama, meja tulis,
orang tua,
terima kasih, mata kuliah.
2.
Gabungan
kata, termasuk istilh khusus , yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat
ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Misalnya: alat pandang-dengar (audio-visual aid), anak-istri saya
(keluarga). buku sejarah-baru (sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua),
orang-tua muda ( ayah-ibu muda), kaki-tangan penguasa (alat penguasa).
3.
Gabungan
kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga
tidak dirasakan lagi sebagai dua kata.
Misalnya: acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa,
belasungkawa, bumiputera, daripada, darmabakti, halalbihalal, kacamata,
kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif, saputangan.
4.
Jika
salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu
ditulis serangkai.
Misalnya: adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, ,
inkonvensional, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana,
nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna,
prasangka, purnawirawan, swadaya, telepon, transmigrasi, tunawisma.
e.
Kata Ganti
Kata ganti adalah kata yang digunakan untuk menggantikan
kata benda. Menurut fungsinya kata ganti dibedakan menjadi;
1.
Kata ganti orang
Kata ganti orang ialah kata yang menggantikan orang. Kata
ganti orang terdapat tiga macam, yaitu;
a.
kata ganti orang pertama
Contoh: Saya, aku, kami,kita
b.
Kata ganti orang kedua
Contoh: Kamu, anda, engkau
c.
Kata ganti orang ketiga
Contoh:
Dia, ia, beliau, -nya.
2.
Kata Ganti Milik
Kata ganti yang dipakai di belakang kata benda yang
menyatakan kepemilikkan.
Contoh: Bukuku di dalam tas.
3.
Kata Ganti Petunjuk
Kata ganti untuk menunjukkan sesuatu.
Contoh: Lemari
itu sangat besar.
f.
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam
gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada.
Misalnya: Tinggallah bersama saya di
sini.
Di mana orang tuamu?
Ibuku
sedang ke luar negeri.
Bram
berasal dari keluarga terpelajar.
g.
Kata Sandang si
dan sang
Kata sandang si
dan sang ditulis terpisah dari kata
yang mengikutinya.
Misalnya:
|
Salah
|
Benar
|
|
Sikecil
|
si kecil
|
|
Sipemalu
|
si pemalu
|
|
Sangdiktator
|
sang dictator
|
|
Sangkancil
|
sang kancil
|
h.
Partikel
1.
Partikel –lah dan –kah ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnnya: Bacalah peraturan ini sampai tuntas.
Siapakah tokoh yang menemukan radium?
2.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya: Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya.
Satu
kali pun Dedy belum pernah datang ke
rumahku.
3.
Partikel per yang berarti ‘demi’ dan
‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau yang
mengikutinya.
Misalnya:
mereka
masuk kelas satu per satu. (‘satu
demi satu’)
Harga kain itu Rp 8.000,00 per meter.
(‘tiap meter’)
i.
Singkatan dan Akronim
1.
Singkatan adalah bentuk yang
dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Adapun aturan penulisannya
adalah sebagai berikut.
a.
Setiap menyingkat satu kata, dipakai
satu tanda titik.
Misalnya:
nomor disingkat no.
halaman disingkat hlm.
b.
Bila menyingkat dua kata, dipakai
dua titik.
Misalnya: atas nama disingkat a.n
c.
Bila menyingkat tiga kata atau lebih
pada akhir singkatannya dipakai satu tanda titik.
Misalnya:
dan kawan-kawan disingkat dkk.
yang akan dating disingkat yad.
dan lain-lain disingkat dll.
d.
Penulisan lambing kimia, singkatan
satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang, tidak diikuti titik.
Misalnya:
Au aurum
cm sentimeter
kg kilogram
Rp (5.000,00) (lima ribu) rupiah
2.
Akronim adalah singkatan yang berupa
gabungan huruf awal kata atau gabungan suku kata dari deret kata yang
disingkat. Akronim dibaca dan diperlakukan sebagai kata. Ada 3 ketentuan dalam
penulisan akronim.
a.
Akronim nama diri yang berupa
gabungan huruf awal dari deret kata yang singkat, seluruhnya ditulis dengan
huruf capital.
Misalnya:
FISIF (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
ISPA (Infeksi
Saluran Pernafasan Atas)
KONI (Komite
Olahraga Nasional Indonesia)
b.
Akronim nama diri yang berupa
gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata, huruf
walnya ditulis dengan huruf capital dan tidak diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya:
Bappenas (Badan
Perencana Pembangunan Nasional)
Kadin (Kamar Dagang dan Industri)
Sespa (Sekolah staf dan Pimpinan Administrasi)
c.
Akronim yang bukan nama diri yang
berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari
deret kata yang disingkat, seluruhnya ditulis dengan huruf kecil dan tidak
diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya:
radar radio detecting and ranging
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
j.
Angka dan Lambang Bilangan
1.
Dipakai untuk menyatakan lambing
bilangan nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka arab atau angka romawi.
Misalnya:
Angka
Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,
Angka romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII,
IX, X
2.
Angka digunakan untuk menyatakan (i)
ukuran panjang, berat, luas, da nisi. (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan
(iv) kuantitas.
Misalnya:
19 meter 4 ons 9 hektar 65 liter
pukul 15.30 10 detik 30 menit 5 jam
Rp 10.000,00 US$3.50 Y500 158 orang
3.
Angka dipakai untuk melambangkan
nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan
Sentosa III No. 152
Rumas Susun Perumnas Klender,
Blok F2, No. 10
4.
Angka digunakan juga untuk menomori
bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab
X, pasal 5, halaman 354
Surat Annisa: 9
5.
Penulisan lambing bilangan dengan
huruf dilakukan sebagai berikut.
a.
Bilangan utuh
Misalnya:
dua
belas 12
dua puluh dua 22
dua ratus dua puluh dua 222
b.
Bilangan pecahan
Misalnya:
setengah ½
tiga perempat ¾
satu persen 1%
6.
Penulisan lambing bilangan tingkat
dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
lihat Bab II,
Pasal 5 dalam Bab ke-2 buku itu
pada awal abad XX, pada abad ke-20 ini
7.
Lambang bilangan pada awal kalimat
ditulis dengan huruf, bukan dengan angka, karena angka tidak boleh mengawali
kalimat. Untuk itu, susunan kalimat diubah dengan cara menempatkan angka
ditengah atau dibagian akhir kalimat.
Misalnya:
Lima puluh orang tewas akibat bencana itu.
Bukan: 50 orang tewas akibat bencana itu.
8.
Angka yang menunjukan bilangan utuh
yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya: Perusahaan kami mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah
lebih dar 200 juta orang.
9.
Menuliskan bilangan dalam teks tidak
perlu dengan angka dan huruf sekaligus, kecuali didalam dokumen resmi seperti
akta dan kuitansi.
Misalnya: Kami memiliki 20 unit computer.
Di dalam lemari itu tersimpan
80 majalah.
Bukan:
Kami memiliki 20 (dua puluh)
unit computer.
Di dalam lemari itu tersimpan
80 (delapan puluh) majalah.
BAB III
Penutup
a.
Kesimpulan
Dalam penulisan karya ilmiyah salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah penulisan kata maupun kalimat yang tepat. Dengan penulisan
kata yang tepat maka pembaca tidak akan mengalami salah tafsir terhadap kata
dasar yang telah diberi imbuhan dan isi dari tulisan tersebut tersalurkan kepada
pembaca, sehingga tujuan penulis dapat tersampaikan kepada pembaca.
b.
Saran
Bahasa
Indonesia tidak akan tetap terjaga apabila tidak diadakan pusat bahasa dan
balai bahasa serta tempat pelatihan dan pengajaran bahasa disetiap
sekolah-sekolah pada setiap jenjang pendidikan nyata diperlukan karena akan
membantu memelihara kesucian dan keaslian bahasa, agar selalu terhindar dari
kontaminasi budaya bahasa asing.
Daftar Pustaka
S.S.
Lamuddin, Finoza. 2009. Komposisi Bahasa
Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Sumber
Internet :
Casino Review | Play Free Roulette and Slots From Real
BalasHapusCasino Review: Casino has many great games from different providers 수원 출장안마 like Microgaming and 제천 출장샵 Playtech. 의정부 출장마사지 Check our 안성 출장마사지 review 경주 출장마사지 to learn how they offer various games and